Tukang gergaji yang petama, “Kayu ini baru saja ditebang dan masih hijau, dan giri-giri gergaji akan tersangkut di dalamnya. Saya akan pergi dulu dan menunggu sampai kayu ini kering.” Ia segera pergi.
Tukang gergaji yang kedua berkata, “Gergaji ini tumpul, saya tidak bisa menggergaji kayu dengannya. Saya akan memberi tahu atasan saya agar gergaji ini ditajamkan dahulu sehingga saya bisa menggunakannya.” dia pun pergi.
Tukang gergaji yang ketiga berkata, “Kayu ini penuh dengan benjolan; ia tentu akan sulit digergaji. Saya akan minta atasan saya untuk menggantinya dengan kayu yang lurus, yang akan saya kerjakan dengan senang hati.” ia pun pergi.
Tukang gergaji ynag keempat berkata, “Ini kayu besi, yang dua kali lebih keras dari kayu jati. Saya akan minta atasan saya untuk menggantinya dengan kayu jati, setelah itulah saya akan menggergaji untuknya.” Dia pun pergi.
Tukang gergaji kelima berkata, “Hari sangat panas. Saya akan menanti sampai udara mulai dingin” ia pun pergi.
Tukang gergaji keenam berkata, “Saya sedang sakit kepala dan saya mau menunggu sampai saya sehat kembali.” dia pun pergi.
Tukang gergaji ketuju menghadapi kayu yang hijau dan penuh benjolan, dan kayu besi.
Gergajinya juga tumpul dan dia pun sedang sakit kepala. Hari itu panas sekali buatnya
Tetapi dia menajamkan gergaji itu dan menggunakannya, sehingga ia bisa memotong kayu besi yang penuh benjolan dan ternyata gergaji tidak tersangkut sama sekali. Hal ini menghilangkan sakit kepalanya, dan keringat pun mendinginkan tubuhnya.
Pada sore harinya atasanya memberi dia sejumlah kayu lainnya untuk digergaji.
- AR. Wells -